Kediri (kedirijaya.com) - Puluhan warga asal Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota Kediri menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Kediri, Senin (16/11). Mereka menuntut Walikota Kediri dr Samsul Ashar mundur dari jabatannya karena ingkar janji.
Tomi Ariwibawa, koordinator aksi mengatakan, walikota tidak melindungi para petani dengan mengalihfungsikan lahan produktif untuk pembangunan rumah susun sederhana sistem sewa (rusunawa). "Mana janji walikota ketika kampanye dulu akan melindungi petani," ungkap Tomi, dalam orasinya.
Massa mendesak walikota membatalkan pembangunan rusunawa yang didirikan di lahan seluas 3,5 hektar. Sebab tanah berstatus kas desa itu menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat selama ini.
Pemerintah Kota berencana mendirikan dua blok yang masing-masing terdiri dari 94 kamar. Pemerintah daerah diminta menyediakan lahan, sedangkan pembangunannya akan dibiayai oleh pemerintah pusat. Rencananya rumah tersebut akan disewakan dengan harga Rp 90.000 per bulan.
Aksi yang sempat memanas karena massa tidak berhasil menemui walikota kediri. Karena, dalam waktu bersamaan dr Samsul Ashar tengah menghadiri acara rapat koordinasi evaluasi Pengawas Pemilu 2009 di Bukit Daun Hotel, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri
Sampai akhirnya, akhirnya diterima oleh Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar. Kendati demikian, warga menolak berdialog dengan Abdullah Abu Bakar dengan alasan ingin langsung bertemu walikota.
Terpisah, Walikota Kediri Samsul Ashar mengaku tidak tahu menahu dengan demo yang digelar warga. Ditanya permasalah rusunawa, walikota menjawab dengan enteng. "Wong izinnya juga sudah keluar, artinya pembangunan itu tidak bermasalah. Saya juga belum tahu terkait laporan itu," ujar Samsul Ashar. (NB)
No comments:
Post a Comment