Sunday, November 13, 2011

Sungai Brantas Perlu Ada Penelitian

RAZIA PENAMBANGKediri (kedirijaya.com) - Maraknya penambang pasir diwilayah sepanjang Kota Kediri hingga akhirnya sejumlah petugas yang dikomandoi Kesatuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dinilai sebagian fihak bukan menyelesaikan masalah, namun akan menambah permasalahan baru. Harusnya ada pihak yang melakukan penelitian daerah mana yang boleh dilakukan penambangan. “Dalam hal ini Disperindagtam, segera mungkin melakukan penelitian, terkait daerah mana yang boleh dilakukan penambangan,” kata Wakil Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi penambang pasir mekanik, belakang gedung Universitas Islam Kediri (Uniska) kemarin. Menurut Abdullah, razia dalam hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, karena setiap dilakukan razia, selalu bocor dan juga akan meresahkan sebagian masyarakat. “Dengan selalu dilakukan razia, mereka akan merasa ketakutan dan resah, harusnya dalam hal ini Pemkot memberikan solusi, bukan hanya main razia,” ujarnya. Dengan catatan, dikatakan Abdullah, boleh dilakukan penambangan harus dijual kepada warga disekitar Kota Kediri atau untuk pembangunan proyek-proyek pemkot Kediri . “Seperti membangun RSUD Gambiran II, itu kan juga membutuhkan pasir, jadi harus ada solusi dalam hal ini,” ungkapnya. Penelitian tersebut, juga untuk mengukur kedalaman sungai, dan nantinya para penambang juga akan ditertibkan dan ditentukan lokasi mana yang boleh dilakukan penambangan. Karena bagaimana pun pengambilan pasir Sungai Brantas juga penting. “Pengambilan pasir didalam sungai juga penting, jadi kalau tidak diambil pasirnya sama sekali justru tidak baik,” ungkapnya. Dalam sidak yang dilakukan Abdullah kemarin, sedikitnya ada puluhan penambang mekanik yang sedang operasi, hanya ada satu mesin diesel yang tidak beroperasi, lantaran mesinnya sedang rusak. “Hari ini hanya mendapatkan satu rit (satu truk tronton red.) saja, karena dieselnya rusak,” kata Imam Subandi (38) salah satu pekerja penambang mekanik asal Tulungagung ini. Saat disinggung terkait maraknya razia akhir-akhir ini juga membuat dirinya tidak tenang dalam bekerja. “Ya tiap hari harus kucing-kucingan mas, kalau ada razia terpaksa tidak operasi sehari,” ungkapnya. Dia juga mengatakan tidak sepakat jika penambang mekanik dilarang, pasalnya hanya itu satu-satunya mata pencaharian sehari-hari. “Kalau ditutup, saya nanti harus bekerja apa,” ungkap bapak dua orang anak ini.(AR)

No comments:

Post a Comment