Kediri (kedirijaya.com) - Menjelang pelaksanaan tes rekruitmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kota Kediri, justru menemui polemik. Puluhan peserta tes, kembali bergejolak dengan menggelar aksi unjuk rasa di Alun-alun Kota Kediri, Jumat (20/11) pagi.
Unjuk rasa menuntut mundurnya jadwal pelaksanaan tes Sabtu (21/11) itu, kali ini dilakukan oleh sekitar 40 ibu-ibu guru 'jebolan' alias lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK).
Para peserta yang dinyatakan gagal tahap administrasi ini yang tergabung dalam alumni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (Stitem) bersama Gerakan Pemuda Nusantara ini meminta kejelasan tentang keruwetan tahapan rekruitmen, khususnya masalah ijazah yang tidak sesuai dengan formasi yang dibutuhkan
Setelah menggelar orasi secara terbuka beberapa saat, masa kemudian menuju Kantor Balai Kota Kediri. Di tempat itu, demonstran yang merasa kesal karena dicoret dari keikutsertaan tes membakar surat balasan dari BKD melalui PT Kantor Pos.
"Ini benar-benar deskriminasi, karena di daerah lain, ijazah seperti kami tidak ada masalah. Kenapa di Kota Kediri, ditolak?," ungkap Veri, salah satu koordinator aksi, dalam orasinya.
Sebagaimana diketahui, kemarin sejumlah peserta yang dicoret ini menggeruduk kantor Balai Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Kediri. Mereka menuntut dicoretnya dari keikutsertaan tes. Dimana, dari 17.000 pelamar, 13.000 dinyatakan lolos administrasi, sedangkan 4.000 lebih dinyatakan gagal, dengan alasan ijazah yang tidak sesuai dengan formasi. ). (NB)
No comments:
Post a Comment